• Setiap Hari Adalah Kesempatan

    Setahun berisi 365 hari, setiap hari yang datang adalah hari baru, maka dalam setahun hiduopmu disuguhkan 365 kesempatan oleh Tuhan. Jangan menyerah, jangan berputus asa. Kegagalan hari ini adalah milik hari ini, esok hari adalah kesempatan bagimu untuk membuat perubahan. Lihatlah matahari, sekali waktu ia terbit tertutup awan, namun matahari tak pernah menyerah untuk te3rus terbit esok hari.
    Manfaatkan waktumu. gunakan kemampuanmu. Rayakan hidupmu. Tunjukkan pada dunia betapa besar arti dirimu bagi kehidupan #arulight.

  • Ketika aku merasa tidak bisa

    Ketika aku merasa tidak bisa, aku akan diam sejenak dan memeriksa: ya, aku memang tidak bisa. Lalu aku akan menarik nafas dan merenungkan. Lalu aku sadar, jika aku memang TIDAK BISA, mengapa tidak kugunting saja Tidak-nya sehingga yang tersisa hanyalah AKU BISA?
    Semua orang yang tidak bisa sebenarnya bisa Anda mereka cukup punya keinginan dan kesungguhan untuk membuang tidaknya #arulight.

  • Berpikir positif dan positif

    Kapanpun kau merasa letih dan muak pada dirimu, atau pada sekelilingmu, jangan terkecoh! Jika kau bisa berpikir negatif, kau juga bisa berpikir positif.
    Berpikir negatif hanya akan membuatmu letih dan tidak bergerak kemana-mana, berpikir positif membuatmu keuat dan sanggup mengambil langkah untuk membuat perubahan. Benua baru tidak akan pernah ditemukan jika para pelaut tidak berani meninggalkan pelabuhan menuju lautan #arulight.

Showing posts with label surealisme. Show all posts
Showing posts with label surealisme. Show all posts

Friday, October 20, 2017


Terbit di jogjareiew.net 22 Juni 2014

Pohon yang Tumbuh di Kepalaku



Pagi itu, rumahku benar-benar gempar. Keponakanku yang baru berusia satu setengah tahun menjerit histeris sewaktu melihatku. Aku kira cuma mimpi, tapi kepalaku benar-benar benjol sewaktu Mama memukulku dengan batang sapu.
“Pergilah kau, Setan!” pekiknya.
Wah, kacau! Seumur hidup, baru sekali ini aku dipanggil Setan. Gila!
“Ini aku, Ma!” kataku.
“Agung? Apa yang terjadi pada dirimu?”
Yang terjadi padaku? Entahlah, aku bingung. Sejak bangun tidur tiba-tiba saja sudah tumbuh daun di kepalaku. Tak ada rambut. Semuanya daun.
“Itu pasti hasil eksperimen gilamu lagi ya, Om?” kata keponakanku yang satunya. “Aku bisa maklum kalau Om habis depresi karena putus cinta, tapi ya jangan mengubah diri sendiri sebagai kelinci percobaan, dong! Itu melawan kodrat Tuhan namanya.”
Keponakanku itu ... ingin sekali kucekik dia. Meskipun aku sempat pusing tujuh keliling karena hasil Botanical Experiment-ku untuk tugas akhir kuliah belum di-goal-kan dosen, aku masih belum cukup sinting untuk mengubah diriku sendiri menjadi spesies aneh di muka bumi.
Gara-gara peristiwa naas yang menimpaku itu, selama dua minggu aku mengurung diri di rumah. Tidak kuliah dan mogok kerja. Tak dapat kutanggung beban mental nanti bila ketemu dengan orang-orang di jalan. Terakhir kali aku keluar rumah, bisik-bisik tetangga sudah tidak sedap di telinga.
“Pasti dia kebanyakan berbuat maksiat sehingga kena adzab,” kata ibu-ibu tetangga dekat rumah.
Aku mengelus dada, meskipun aku jarang pergi ke masjid, tapi salat lima waktu tak pernah absen di rumah. Aku juga bukan anak yang durhaka pada orang tua. Maksiat? Maksiat apa? Seenak perutnya saja mereka menyebarkan fitnah. Jika kebanyakan dosa, itu seharusnya para suami mereka, semua pohon-pohon di hutan habis dibabat mereka. Pohon yang dibiarkan tetap hidup hanyalah pohon randu di batas desa, itu pun karena mereka takut berurusan dengan jin penunggunya.
“Atau jangan-jangan dia kena kutukan jin penunggu pohon randu itu?” timpal salah satu ibu-ibu yang lain. “Kata suamiku, si Agung pernah kencing di pohon keramat itu.”
“Bisa juga itu ...,” yang lain menanggapi.
Hadew, entah jin penunggu atau setan alas macam apalah, jika masalahku bermuncul dari situ aku tidak bisa percaya. Apa-apa harus bisa dijelaskan dengan sains agar bisa diterima logika. Ngawur sekali ucapan mereka! Lama-lama bisa terkena darah tinggi aku karena ucapan ibu-ibu itu. Aku jadi sebal keluar rumah, tapi karena kebutuhan yang mulai menuntut, sekaligus dosen yang mengancam tidak akan sudih mengizinkanku ikut ujian perbaikan nilai, aku terpaksa menampakkan diri kembali, sekaligus melatih kesabaran untuk menerima kenyataan.
Kesabaranku ternyata harus di mulai sejak membuka pintu rumah. Waktu itu kulihat Papa sedang mengecat rumah. Aku kaget. Pemandangan rumahku kacau sekali. Anak-anak nakal para tetangga rupanya mencoret-coreti rumahku dengan tulisan tak sopan, seperti: “Agung makhluk jadi-jadian”, “Agung titisan jin pohon randu” dan ada yang lebih kurang ajar lagi yang tentu saja tidak akan kukatakan padamu. Dan kau tahu? Setelah bertekad untuk belajar bersabar, hari pertama itu aku sudah menjawab ujian kesabaran itu dengan misuh-misuh tak keruan. Menyebalkan!
Di kampus, semua mata tertuju padaku. Aku jadi buah bibir yang sampai dower dibicarakan. Dosen pembimbing ekperimenku malah tertarik padaku. Beliau ingin menjadikanku boneka analisanya. Awalnya sih aku ogah, tapi karena dapat gratisan uang semester sebagai imbalannya, aku bersedia. Toh, ada untungnya juga buatku untuk mengetahui gejala fenomena apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku.
Hampir satu bulan berlalu, dan dosenku yang sudah menyandang rentetan titel itu ilmu dan pengetahuannya tak kunjung bisa memecahkan masalah yang ada pada diriku.
“Mungkin kamu perlu menemui orang pintar, Bro,” kata Norky, sahabatku.
“Maksudmu aku harus mendatangi dukun? No way, Man! Itu tindakan yang tidak dibenarkan oleh syariat agama. Demi Allah, dunia-akhirat, aku tidak akan minta tolong ke dukun!” sahutku, mantap!
Tapi, waktu memang kadang dapat membolak-balikkan perkataan. Tiga hari setelah sumpahku terlontar, daun-daun di kepalaku tumbuh semakin lebat. Bahkan muncul ranting dan dahan. Ini bukan sembarang daun-daun lagi namanya, tapi pohon. Kadang-kadang serangga hinggap untuk makan atau menjadikannya habitat. Sungguh benar-benar menggangu. Rasanya gatal dan risih sekali. Aku jengkel. Kutarik keras-keras pohon di kepalaku itu, tapi—aduh! sakitnya ... masya Allah, luar biasa! Sepertinya ada akar-akar kecil dari pohon di kepalaku yang menancap sampai ke dalam otak, dan bagian daun yang terputus itu meninggalkan nyeri yang membuatku menjerit-jerit. Ini benar-benar siksaan bagiku. Aku tak tahan. Maka, apa boleh dibuat, aku pergi ke dukun.
Sepanjang perjalanan menuju rumah terkutuk itu, yakni kediaman sang dukun, aku mengucapkan istighfar berkali-kali, takut kalau-kalau laknat Allah disambarkan dari langit untuk menimpa orang munafik sepertiku yang telah melanggar sumpah. Norky, kawan baik hati yang mengantarkanku itu, selama perjalanan terkikik-kikik menahan tawa. Sungguh kurang ajar betul!

***

            Dukun itu membaca mantra seperti orang gagu sakit ayan. Tangannya menari-nari di atas asap kemenyan, mulutnya komat-kamit tak keruan. Secawan air diteguk dan, bruussh...! air kumurnya itu disemburkan di atas kepalaku. Sialan betul metode penyembuhan orang sakti itu. Dalam hati aku mengutuk agar mulut dukun itu bengkak. Ia terkekeh-kekeh dengan lagak menyebalkan.
 “Tenang anak muda, besok pohon di kepalamu itu akan gugur dan tumbuh lagi rambutmu,” katanya.
“Kenapa kepalaku bisa tumbuh pohon, Mbah?”
“Mungkin karena kamu pernah berbuat sembrono pada suatu tempat yang mengakibatkan penunggunya mengutukmu, anak muda.”
Ia mulai menjelaskan banyak hal-hal gaib yang berhubungan denganku, tapi aku tidak terlalu peduli dan mengingatnya. Aku berharap dukun itu benar, agar dosa yang kulakukan dengan berdatang padanya tidak menjadi sia-sia, meskipun jawabannya nonsense bagiku.

***

            Keesokan harinya, pagi-pagi aku malah tambah gusar. Benar-benar kampret si dukun itu! Air jampi-jampinya bukannya melenyapkan pohon di kepalaku tapi justru membuatnya tumbuh subur. Daun-daun pohon sialan itu tambah lebat, malahan  tumbuh sulur-sulur yang menjuntai sampai ke pantat. Mungkin Tuhan telah murka sehingga membuatku nampak sebegini rupa. Aku menyesal sekaligus hilang akal. Aku keluar rumah dan berjalan gontai menuju ke puncak bukit, tempat sepi yang biasanya membuatku merasa tenang. Sepanjang jalan diriku diikuti sorakan anak-anak kecil, gunjingan, serta kambing-kambing penduduk yang bernafsu dengan rambut hijauku. Rasanya aku menjadi seperti orang yang tak bernyawa.
            Sampai di bukit, dari kejauhan kulihat desaku dengan rumah-rumah yang nampak seperti miniatur. Dulu rumah-rumah itu dikelilingi pepohonan hijau. Sekarang yang berwarna hijau hanya pohon randu raksasa di batas desa saja. Kuperhatikan sekumpulan orang mengerumuninya. Benar-benar desa yang lugu, pasti orang-orang itu kembali melanggengkan kebudayaan ritual nenek moyang, yakni melakukan sesembahan pada pohon yang dianggap keramat. Di desa ini kepercayaan terhadap sesuatu yang belum jelas atau mitos begitu sering dipraktekkan ke masyarakat. Misalnya, seorang anak sedang memasukkan kereweng1 dalam sakunya, ketika kutanya, ia menjawab bahwa hal itu dilakukan agar dia tidak kebelet berak. Atau seorang ibu hamil yang enggan makan cumi, katanya ia takut kalau nanti bayinya lahir akan berkulit hitam. Aku ingin tertawa mendengarnya, tapi hatiku ngilu rasanya. Bagaimana jika kebudayaan seperti ini tetap dilanggengkan oleh anak-anak desa generasi ke depan? Kebodohan akan tetap lestari. Maka, semenjak aku menetap di desa ini, impian yang kupunya adalah mengajar. Suatu cara memerangi kebodohan.
            Singkat cerita, tak ada sekolah yang menerimaku menjadi guru. Tapi, kabar baiknya, aku dapat mengumpulkan anak-anak dan mendidik mereka secara non-formal. Pengetahuan umum, keterampilan, budidaya ikan, sampai sastra dan filsafat. Semua itu kuberikan sesuai tingkatan usia, minat, dan daya tangkap mereka. Ibarat pohon, aku senang bisa memberikan buah buat orang lain. Dan aku bersyukur, jika melihat semangat dan antusias mereka sekarang, aku bisa sedikit membaca harapan di desa ini.

***

Gempar. Lagi-lagi gempar. Aku heran dengan desa ini. Kenapa selalu ada hal yang menggemparkan tiap harinya. Pagi-pagi seusai membuka pintu rumah, sekumpulan penduduk mengepung beranda rumah dan langsung bersila sewaktu aku berdiri di hadapan mereka.
“Ada apa ini?” tanyaku.
“Pohon randu keramat kami telah tumbang, tersambar geledek semalam,” kata ketua perkumpulan mereka.
“Lalu apa kaitannya denganku?”
Belum sempat terjawab, salah satu orang sudah membakar kemenyan dan sebagian yang lain membawa sesajen makanan. []

#Rumah – Lamongan, 2 April 2014 
Catatan:
1.   1.   pecahan genting
8:29 AM   Posted by Unknown in , with No comments
Read More

Sunday, October 23, 2016

Cerpen ini satu tahun mengendap dalam email surat kabar, tahun 2015 kuirimkan dan satu tahun lebih lama kubuat, tepatnya pada tahun 2014 di Bandung. Baru di tahun 2016, tepatnya tanggal 30 Juli akhirnya dimuat di surat kabar Harian Rakyat Sumbar. sangat lama juga, ya... Yang terpenting, semoga ini bisa menghibur anda. Selamat membaca....

 Rezim Norky dan Abad Pencurian



Pagi-pagi, setiap bangun tidur, Norky dengan cepat memasang kembali organ-organ tubuhnya sesuai pada tempatnya. Mata, hidung, alis, telinga, rambut, kaki, dan lain-lainnya harus terpasang dengan benar. Apa kata dunia nanti seandainya melihat manusia dengan wujud telinga pada mata, tangan pada kaki, dan yang paling parah, bagaimana jika anus dan mulut bertukar posisi? Kau tentu tak ingin membayangkan proses bagaimana makhluk tersebut memasukkan makanan atau mengeluarkan hasil olahannya, bukan? Tapi bagi Norky yang sudah terbiasa, memasang bagian-bagian tubuhnya adalah persoalan yang gampang. Ia membiarkan alam bawah sadarnya melakukan sendiri tugas rutin itu, dan bukankah aktifitas manusia itu didominasi oleh alam bawah sadarnya? Jadi kebiasaan Norky itu tidak dapat dikatakan mustahil.
Mungkin orang akan bertanya, buat apa melepaskan “atribut-atribut” tubuh itu sebelum tidur? ‘kan lebih baik tidak perlu dilepas biar tidak repot-repot bongkar-pasang jika bangun atau mau tidur? Tapi sebagai Presiden yang setiap waktunya sibuk mengurusi negara, melepaskan atribut tubuh itu perlu dilakukan agar semuanya dapat diistirahatkan lebih optimal. Ibarat barang, atribut-atribut itu harus punya masa istirahat setelah seharian sibuk dipakai agar tetap awet dan bisa penuh performa lagi saat esok digunakan. Ketika ada wartawan yang menyodorkan pertanyaan terkait hal ini, beginilah sang presiden menjawab:
“Suka-suka tuannya, dong! Mau dicopot atau dipasang, orang lain tidak berhak berkomentar. Ini adalah cara saya untuk menghargai anugerah Tuhan dalam rangkah melestarikan pemberianNya kepada saya.”
            Sebelum berdinas untuk mengabdi pada negara, sang istri tercinta sudah mengabdikan dirinya pada Norky. Semua hidangan sarapan dihidangkan sesuai selerah presiden. Dimasak sendiri dengan penuh cinta. Ini adalah hal yang paling membahagiakan bagi Norky, dan ini adalah ritualnya menyambut pagi, sebelum otaknya sesak dijejali urusan negara.
            Bagi presiden Norky, dalam mengatur urusan negara, semua aturannya harus praktis dan otomatis. Ia membenci pada segala hal yang ribet, misalnya: untuk melamar pekerjaan, seseorang harus menyiapkan terlebih dahulu keperluan dokumen dan tetek-bengeknya yang sudah menyita waktu, tenaga dan biaya. Belum lagi ijazah pendidikan formal sesuai bidangnya menjadi jaminan paten untuk diterima dibanding skill nyata individu. Dan yang paling menyebalkan, menurutnya, hal ini melibatkan uang panas pada bos perusahaan itu atau menggunakan jalur kolusi dan nepotisme. Hal seperti ini harus diberantas tuntas. Negara harus punya pribadi yang unggul, mental-mental pragmatis harus dimusnahkan.
Maka, untuk mewujudkan visi-misi mulia untuk menciptakan negara yang berkarakter unggul itu, segala peraturan negara sebelumnya yang sering disalahgunakan oleh oknum-oknum jahat dan tindak kejahatan lainnya harus ditindak keras.
“Jadi pribadi yang baik jangan sampai lupa. Ya, lupa adalah awal mula hal buruk tercipta. Negara kita sering kecolongan karena kita lupa: lupa diri, lupa sesama, dan lupa Tuhan,” kata presiden Norky dalam memberikan suatu pidato. Namun adakah manusia yang terhindar dari lupa? 
Dulu, sebelum sebelum presiden Norky duduk di kursi pemerintahan, banyak sekali tindak pencurian terjadi dalam negara. Pelakunya paling banyak malah justru orang dalam sendiri. Pencuri-pencuri banyak yang dilegalkan. Segala kelas pencuri memiliki nama-nama yang sesuai dengan jenis barang yang dicurinya maupun besar-kecilnya nilai barang itu. Mulai dari kelas teri, ada pengutil dan pengentit. Kelas salmon, ada pencopet dan maling. Kelas paus, ada perampas, penodong, perampok dan sekawaanannya. Kelas hantu, ada penggelap, pengelabuh, koruptor dan antek-anteknya. Akibatnya bangsa kita jadi bermental bajingan. Jadi menurut presiden kita, Norky, ini harus benar-benar dihentikan sebab pencurian telah menjadi kebudayaan, abad yang mengerikan. Maka, sistem baru harus diterapkan. Jangan sampai sejarah abad pencurian masih dibudidayakan, sebab sejarah yang terulang adalah suatu kebodohan tingkat internasional.
Untuk memerangi hal di atas, eksekusi perlu dilakukan. Para pencuri itu harus diberi ultimatum. Jika mereka mencuri ayam maka harus dipotong tangannya, mencuri sandal dipotong kakinya, mencuri istri tetangga dipotong burungnya, dan jika mencuri uang negara harus dipotong lehernya. Dan benar saja, sejak awal tahun presiden Norky memerintah, negara jadi makmur sentosa, dengan catatan: ribuan warga negara berstatus buntung terbaca jelas pada KTP-nya. Itu merupakan harga yang harus dibayar untuk mendirikan era baru kebangkitan bangsa.
Apa kau setuju dengan hal ini? atau ada banyak pertanyaan yang muncul dibenakmu tentang kebijakan ini? Aku tidak pandai menjawabnya. Hanya saja, beberapa pihak kontra akhirnya muncul untuk menentang kebijakan sang presiden. Sejak itu muncullah konfrontasi lewat media massa  mengenai hal ini.
“Hukuman itu seharusnya dibuat untuk membuat jerah, bukan merampas masa depan tersalah. Akibat kebijakan presiden, banyak warga buntung dikucilkan oleh masyarakat.”
“Apakah ini yang namanya cita-cita untuk membangun pribadi negara yang unggul? Kenapa justru menciptakan ciri khas kehinaan di mata negara lain karena banyak warga buntung di mana-mana?”
“Presiden Norky sudah tidak manusiawi lagi, ia telah mengganti hatinya dengan chip memory yang mengatur pemerintahan negara. Bukankah, ia suka bongkar-pasang tubuhnya? Jika kini ia telah jadi robot, seharusnya ia mengatur kebijakannya pada robot. Rakyat kan manusia, bukan robot, maka sistem pemerintahan yang harus diteapkan seharusnya manuisawi pula.”
Norky meremas-remas koran-koran di mejanya yang mewartakan hal di atas tersebut.
“Apa-apaan mereka? Berani menulis tapi tak berani terang menyebut namanya. Beraninya cuma sama pantat saja, tidak dengan muka,” gerutu sang presiden. Ingin sekali ia melacak keberadaan penulis sembrono itu lalu menculiknya, setelah itu mencincang dan menyantapnya mentah-mentah. Hanya saja ia sadar betul, penculikan itu sama saja dengan pencurian dalam bentuk yang lain. Maka sebagai pemimpin yang bijaksana, ia tidak akan melakukan tindakan jahat itu. Sang Presiden akhirnya berdoa agar peristiwa semacam ini cepat berlalu.
Tetapi, akibat munculnya argumen-argumen dari para penulis itu, timbul reaksi dari masyarakat yang mempertanyakan keorisinilan presiden Norky sebagai manusia murni. Tentunya, mereka tak ingin dipimpin oleh seorang robot. Bisa menjadi terror apabila negara dipimpin oleh robot, bisa saja robot punya misi terselubung untuk menciptakan kebudayaan baru dalam dunia, yakni mengubah masyarakat menjadi robot. Semut dipimpin oleh ratu semut. Lebah dipimpin oleh ratu lebah. Singa dipimpin pejantannya. Dan manusia harus dipimpin manusia. Ini sudah kodrat alami. Tak boleh ada robot duduk di kursi pemerintahan. Haram hukumnya.
            Keesokan harinya, usai bangun tidur, Presiden Norky buru-buru memasang organ-oragan tubuhnya, lalu mandi dan berpakaian.
            “Kok buru-buru, Pa?” tanya sang Ibu presiden kita yang masih tergolek lemas di ranjang. Ya, sang presiden perlu mendapat jatah “cinta” dari sang istri untuk menjadi vitamin baginya menghadapi suatu hal yang akan berlangsung hari itu.
            “Tidak ada apa-apa,” jawab Norky dengan datar. Sang istri lekat-lekat menatap suaminya.
Presiden sangat mencintai istrinya. Ia percaya, di balik lelaki hebat, ada sang istri di belakangnya. Singkatnya, sang istri adalah kekuatan baginya. Dan presiden tak ingin menceritakan masalah yang akan ia hadapi hari itu, agar istrinya tidak cemas. Tetapi saat menatap mata wanita yang dikasihinya itu mengandung kecemasan dan tanda tanya, hati presiden jadi berkata lain:
“Iya, Ma... sebenarnya massa sudah sulit percaya padaku. Tadi ada yang menelpon, massa telah mengelilingi Istana Presiden sambil menyiapkan pentungan dan molotov. Entah bagaimana jalan pikir mereka, katanya ingin menuntut hal tentang humanisme, tetapi mereka sendiri mempraktikkan cara binatang.”
“Wah, Mama takut, Pa. Jangan pergi ke sana, ya?”
“Seorang pemimpin tidak boleh lari atau sembunyi, Ma. Tenang saja, Papa tidak salah. Ini akan jadi aksi damai nantinya.” Presiden Norky memeluk tubuh istrinya, agak lama. “Papa pamit, Ma.”
Istri presiden itu tercenung. Kecupan hangat mendarat di keningnya.
Sang presiden langsung bablas dibawa pergi supirnya. Tak lama kemudian, sang istri berlari keluar rumah dengan panik.
“Pa... Papa...! Kembali, Pa!”
Mobil presiden Norky semakin menjauh, meninggalkan otak presiden di ranjang yang lupa dipasang.[]


#Yayasan Kebudayaan Bandung_Bandung, 27 April 2014



12:34 AM   Posted by Unknown in , with No comments
Read More

Wednesday, December 30, 2015

Beraliran surealisme, cerpen ini adalah cerpen buatanku yang paling aku sukai. telah termuat di jogjareview.net 19 )ktober 2014 silam. ( http://jogjareview.net/fiksi/bulan-oh-bulan/ ) well, check it out:


Cerpen Agung Yuli TH*


Bulan, Oh Bulan...



Satu: Padang Bulan di Lapangan Kampung

Malam yang gempita. Di tengah lapangan, anak-anak kampung berkumpul. Mereka melempari bulan yang termangu di langit. BLUG...! benda bulat itu pun jatuh, seukuran bola sepak, menggelinding ke tanah dan langsung diserbu puluhan kaki, menggiringnya ke kiri dan ke kanan, menendangnya ke arah gawang. GOL...! sorak sebagian mereka. Lalu giring lagi dan lagi, tendang ke sana kemari. Bulan menjadi bulan-bulanan.
PRAAANG!! Terdengar kaca jendela pecah. Sebuah tendangan meluncurkan bulan masuk ke dalam kamar rumah yang telah lama kosong. Ruangan yang tiap malam gelap itu kini menjadi terang benderang. Konon rumah itu milik seorang pejabat daerah yang disita pemerintah.
Anak-anak bergegas menghampiri rumah itu untuk mengambil bulan mereka. Dan betapa terkejutnya atas apa yang mereka dapatkan: pasangan mesum sedang asyik-masyuk dalam kamar rumah tersebut. Gerombolan anak-anak itu berteriak. “Itu Presiden! Itu Presiden!”
Orang-orang yang mendengarnya langsung mengepung lokasi kejadian. Secara kebetulan ada seorang wartawan di yang hadir di sana dan tanpa ampun menjepret-jepretkan kameranya pada sepasang tubuh telanjang itu. Penduduk  semakin banyak yang berdatangan. Rumah tersebut seakan mau pecah saja.
Di tengah kehebohan malam itu, salah satu bocah sedang sibuk merangkak dan  menyelusupi kaki orang-orang dalam kamar rumah tersebut untuk mencari bulan. Ia hanya peduli pada benda angkasa itu agar segera bisa main sepak bulan kembali. Namun keinginannya tak dapat terpenuhi. Tak akan ada lagi permainan yang namanya sepak bulan. Bulan yang ia temukan telah pecah terbelah. Hanya separuh belahan ia dapatkan. Karena kasihan, anak itu melepaskan bulan untuk kembali ke langit.
Tapi, di mana lagi separuh belahan bulan?

Dua: Bulan Biru di Ambang Jendela Kamar Hotel

Kamar 217. Dari ambang jendela, seorang penyair telah lama memandangi bulan dalam kamarnya yang hening. Tanggal 5 Maret ini bulan berubah warna menjadi biru, membuat penyair itu merasakan sesuatu yang membuatnya terpaku, entah apa itu, ia tak dapat menjelaskannya. Namun, waktu itu ia teringat pada seorang gadis yang menyukai warna biru.
Secarik kertas tertoreh. Dan sebuah puisi pun tercipta:
Angin termangu di pohon asam. Bulan tertusuk lalang. Tapi malam yang penuh belas kasihan menerima semesta bayang-bayang. Dengan mesra menidurkannya dalam ranjang-ranjang nyanyian.1
Di kamar 227. Seorang anak perempuan pun sedang menatap bulan. Ia meraba kaca jendela kamar hotel, seolah bulanlah yang sedang dielus-elus. “Ibu... Ibu...,” gumamnya. Garis-garis luka melekat di tangannya, bekas pukulan dari sang ayah. Ia membenci lelaki itu, terlebih saat dirinya datang dengan membawakan ibu baru. Dan selalu, esok gonta-ganti ibu yang lain lagi. Sebelum tidur, anak itu sering berdoa agar esok pagi pintu kamar hotelnya tak pernah dibuka lagi oleh ayahnya. Ia harap sebuah truk tronton telah melindas rata tubuhnya. Namun kini ia sangsi akan keberadaan Tuhan, sebab doanya tak pernah dikabulkan.
Anak itu hanya menginginkan ibu yang lama, yang wajahnya mirip bulan. Kata pelayan kamar hotel, orang yang selalu baik kepadanya, ibunya kini telah berada di bulan. Gadis itu tak pernah mengerti mengapa ibunya berada di sana, tapi yang pasti ia ingin sekali menyusulnya ke bulan.

Tiga: Bulan Dalam Foto Hitam-putih 

Sebuah foto dikeluarkan dari dalam saku jas oleh seseorang. Wajah bulan tertera di dalamnya.
“Ini sasaran kita. Lakukan tugasmu dengan benar. Ia harus mati malam ini juga!”
“Baik, Pak.”
TIT!! Sebuah tombol ditekan. WUUUSSH...!! sebuah roket melesat ke angkasa. Lalu, DUAR... WAR...WAR...!! Bulan meledak seketika. Hujan debu turun dari angkasa.
Lembar foto itu dibiarkan jatuh ke tanah. Warnanya berubah menjadi hitam-putih.
“Sekarang kau hanya tinggal kenangan, bulan!”
Nun jauh di sana, terdengar jeritan anak perempuan melengking dari arah hotel, tak lama setelah kejadian itu.
“Ibu...!! Ibu...!!”

Empat: Bulan Dalam Berita

Musim berjalan tak karuan. Suhu udara berubah dengan brutal. Kemarau dan penghujan tak bisa ditebak arahnya. Lahan-lahan pertanian mati. Di laut, gelombang air pasang dan surut jadi tak teratur. Para nelayan kesusahan mencari nafkah. Di hutan, banyak populasi binatang nelangsa; habitat mereka jadi tak senyaman biasanya. Sebagian kelompok binatang mati, sebagian yang lain mempertarukan hidupnya sebagai obyek buruan manusia ketika kelompok binatang itu memutuskan untuk berkelana masuk ke desa, bahkan ke kota, untuk mencari kehidupan baru. Dalam sehari waktu berjalan enam jam lebih cepat dari biasanya, disebabkan rotasi bumi yang semakin cepat berputar tanpa adanya daya tarik gravitasi bulan. Bila malam tiba suasana jadi sangat mencekam. Tak ada lagi cahaya di langit. Bulan telah mati.
Para Ulama berbondong-bondong bersama pengikutnya menggelar acara istighotsah bersama. Para pemuka agama yang lain pun melakukan ritual keagamaannya masing-masing guna meminta ampun pada Yang Maha Kuasa atas tindakan para manusia karena sudah terlampau sering menzalimi bulan: menjadikannya bola sepak, memfitnahnya dengan mengatakan serupa wajah pacarnya, dilempari batu, dan lain sebagainya.
“Bukankah bulan adalah ciptaan Tuhan? Bisa-bisanya manusia bertindak seenak Setan? Dan sekarang malah ada orang sinting yang menghancurkan bulan. Ini betul-betul zaman edan! Kiamat akan segera datang.  Astaghfirullah... Astaghfirullah...!”
Di berbagai media, lembaga-lembaga maupun di jalanan, bulan tak henti-hentinya dijadikan topik pembicaraan. Para aktifis mahasiswa berunjuk rasa agar pemerintah segera bertindak tegas untuk segera menemukan pelaku penghancuran bulan beserta dalangnya. Badan kepolisian dan inteligent negara telah menyebar ke penjuru negeri. Gerakan-gerakan Islam Bawah Tanah2 ‘digali-gali’. Orang-orang Islam yang tak bersalah pun ikut dicurigai, sebagian bahkan disiksa setengah mati.
Maka membaralah kebencian orang-orang Islam yang lain sebab pemerintah telah menzalimi sesama saudaranya. Sedangkan golongan Islam Bawah Tanah yang merasa telah difitnah, melakukan aksi yang menjadi-jadi: gedung-gedung pemerintah diledakkan. Bumi Indonesia menjadi gonjang-ganjing. Para aktifis mahasiswa berkoar-koar dengan tema baru lagi.
Berbeda dengan respon sosial yang terjadi di Indonesia, di negara lain meskipun banyak yang simpatis dengan nasib kehidupan di bumi yang merana sebab ditinggal mati bulan, salah satu dari negara lain di belahan timur bumi justru senang dengan kematian benda angkasa itu. Pemuka negara tersebut berpendapat bahwa daya tarik dari gravitasi bulan membuat posisi bumi agak miring terhadap matahari sehingga menyebabkan musim yang kurang baik bagi wilayah negaranya dan musim yang bagus di negara-negara belahan barat.
"Siapa yang butuh bulan? Bulan mempengaruhi pasang-surut, menerangi langit di malam hari, dan para penyair tampaknya menyukai bulan, tapi kita tidak benar-benar membutuhkan bulan."3
Pendapat di atas ternyata memperoleh respon positif dari beberapa negara tetangganya.

Lima: Remang Cahaya Bulan dalam Bola Lampu di Sebuah Kamar Hotel

            Seorang lelaki paruh baya bersama perempuan muda memesan sebuah kamar hotel usai berkunjung dari suatu tempat. Kamar nomor 57.
Si perempuan tengah mabuk tingkat kayangan, tubuhnya  dilemparkan begitu saja di ranjang oleh si lelaki setelah sampai di kamar. Lampu pijar di sampingnya dinyalakan. Sorot cahanya yang remang menghangatkan ranjang. Perempuan itu terpaku menatap lampu itu.
            “Apakah yang bersinar di dalam sekat kain itu adalah bulan?”
            “Kamu ini ada-ada saja, Sayang. Mana mungkin itu terjadi.”
            “Aku sangat merindukannya.”
            “Kenapa tidak merindukan aku saja? Tolol jika merindukan benda yang sudah mati itu.”
            “Semua ini gara-gara Presiden yang telah menghancurkannya.”
Ngaco kamu.”
“Dia sendiri yang bilang padaku. Aku sangat dekat dengannya, lebih dari siapapun di dunia ini.”
“Hahaha, bau alkohol masih segar di mulutmu, Sayang.”
“Aku lebih dekat dengannya dibanding dirimu.”
“Ha?! Jangan bilang kamu adalah mahasiswi yang tidur dengan Presiden di sebuah rumah sitaan itu.”
“He’em, mereka membayarku tinggi untuknya.”
“Jadi karena bulan telah menyebabkan tindakan asusilanya denganmu diketahui publik, maka sebab itulah ia menghancurkannya? Kurang ajar, akan kubunuh dia.”
“Sudahlah, kamu hanya mencari perkara saja.”
“Dengar baik-baik, aku ingin sekali membunuhnya bukan cuma soal persaingan politik, tapi karena bajingan itu telah mengencanimu!”

Enam: Bulan yang Sedang Tertidur dalam Koper

            Keesokan harinya, seseorang berjaket hitam masuk dalam kamar hotel nomor 57. Orang tersebut menenteng kopor besar. Si penghuni kamar itu telah menyambut kedatangannya. Di sana, kopor itu dibuka.
“Bulan?! Bagaimana bisa kamu mendapatkannya?”
“Hahaha...! Itu tidak penting, Bos, yang pasti ini akan membantu rencana kita.”
“Ssst! Pelankan suaramu, Bego! Nanti dia bangun. Jangan sampai nanti dia merengek dan menarik perhatian kamar sebelah.”
“Ini kan siang, Bos. Mana mungkin dia bisa bangun?”
“Nggak usah protes! Jelaskan saja apa rencanamu.”
“Begini, Bos, setelah kita membunuh Presiden seperti yang kita rencanakan dahulu, setelah itu kita lepaskan kembali separuh bulan ini ke langit. Ya, ini akan memberikan kejayaan bagi kita?”
“Wah, pintar sekali kamu. Hahaha... !”
 “Ssst! pelankan suaramu, Bos.”

Tujuh: Bulan yang Menjadi Hantu

“Hallo...?”
“Lapor, Pak. Semua kecurigaan masyarakat kini mengarah pada kita, Pak! Apa yang harus....”
TIT!
Ponsel Presiden dilemparkan ke jalanan. Dia berjalan menyusuri trotoar tanpa adanya pengawal. Dasi dan jas yang dikenakannya dilepas lalu dimasukkan ke tong sampah. Ia hanya ingin sendiri. Di bawah langit yang tanpa bulan, kota seakan telah lama mati. Tubuh orang-orang tuna wisma yang tertidur di pinggir-pinggir jalan tampak seperti batang mayat. Barangkali bila dirinya mati di jalanan, mungkin tak akan ada orang yang peduli terhadap jasadnya. Ya, dia benar-benar berpikir demikian. Apa yang harus dihormati terhadap seorang pemimpin yang gemar berzina dan menghancurkan  bulan? Bisa jadi jazadnya akan dibungkus dengan karung, lalu dilemparkan ke kali yang penuh sampah.
Sang Presiden terus berjalan tanpa tujuan. Hampir sepanjang usia ia tinggal di kota itu, tapi baru sekarang ia merasa begitu sendiri. Asing. Dan hampa. Ia tatap langit. Sungguh begitu pekat. Di sana ia membayangkan wajah almarhumah istrinya, wanita yang selalu membuatnya tenang; wanita yang mirip dengan bulan. Dan ia begitu gusar ketika malam itu perzinaannya diketahui bulan. Tiba-tiba saja dirinya merasa menyesal. Kini bulan terlanjur ia musnahkan. Ia kembali berjalan, berjalan dan berjalan. Sebuah sorot cahaya keemasan muncul dari kegelapan. Tubuh lelaki itu termandikan olehnya. Ia tersenyum dan menggumam, “Bulan, maafkan aku, bulan...” cahaya itu semakin dekat dan dekat, lalu... CRAASSH!! Tubuh sang Presiden hampir rata dengan aspal jalanan, terlindas truk tronton. Ia terkapar sambil memandang langit yang pekat. Sekilas waktu membeku, mendinginkan sekujur tubuhnya. Beberapa detik kemudian, langit yang kelam itu seakan jatuh menimpahnya. Hitam.
Dari tempat yang jauh, anak perempuan di kamar hotel 227 tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Entah karena apa.

Delapan: Bulan yang Bangun dari Tidurnya

            Dua orang turun dari truk tronton. Salah satunya menenteng sebuah koper.
            “Cepat keluarkan dia dari dalam koper!”
            “Oke, Bos.”
            Semburat cahaya keemasan menyeruak dari dalam koper. Bulan telah bangun dari lelapnya. Tubuhnya yang tinggal separuh melambung tinggi. Langit kembali bercahaya. Orang-orang bergegas keluar rumah dan bersorak-sorak menyaksikan bulan. Malam menjadi pesta-pora seolah bulan yang baru telah lahir ke dunia.
            “Rencana kita sukses. Bulan telah berada di langit, ini akan menjadi simbol era baru negeri kita. Kamu lihat? Mereka bergembira dengan kedatangan bulan baru yang kuberikan. Setelah ini rakyat tidak hanya akan memilihku jadi Presiden. Hahaha!”
            “Hahaha, kamu hebat, Bos!”
           
Sembilan: Rembulan Merah

            Kabar tentang kebangkitan bulan secepat kilat menyebar ke penjuru dunia. Negara-negara yang sempat bersedih akibat kehilangan bulan, kini memiliki harapan baru. Di lain pihak, negara yang sempat bersuka-ria dengan kematian bulan kini menjadi muram. Mereka membentuk sebuah aliansi untuk merencanakan sesuatu: menghancurkan bulan.
            Tak lama dari kebangkitan bulan, tank-tank, kapal perang, pesawat tempur dan seluruh armada perang dari negara-negara yang kontra dengan bulan. PBB hanya menjadi sebuah perserikatan yang dipersetankan. Alhasil, negara-negara yang mencintai bulan mengeluarkan senjata perang dan armada yang sama untuk menggagalkan rencana aliansi negara yang membenci bulan. Keduanya berseteruh. Bom-bom diletuskan, nuklir-nuklir diluncurkan, tubuh-tubuh hangus terbakar. Sedangkan di langit, bulan yang lugu termangu menatap kehidupan di bawahnya. Warnanya memerah.

# Rumah_Lamongan, 19 November 2013 – 8 Juli 2014

Catatan:
1.      Penggalan puisi D. Zawawi Imron yang berjudul “Bulan Tertusuk Lalang”.
2.      Hanya sekedar sebutan dari penulis untuk golongan Islam yang anarkis.
3.      Pendapat Robert Gibbs, Humas Gedung Putih, ketika menanggapi rencana penghancuran bulan oleh China yang meminta dukungan Amerika di Gedung Putih.



12:20 AM   Posted by Unknown in , with No comments
Read More

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search