• Setiap Hari Adalah Kesempatan

    Setahun berisi 365 hari, setiap hari yang datang adalah hari baru, maka dalam setahun hiduopmu disuguhkan 365 kesempatan oleh Tuhan. Jangan menyerah, jangan berputus asa. Kegagalan hari ini adalah milik hari ini, esok hari adalah kesempatan bagimu untuk membuat perubahan. Lihatlah matahari, sekali waktu ia terbit tertutup awan, namun matahari tak pernah menyerah untuk te3rus terbit esok hari.
    Manfaatkan waktumu. gunakan kemampuanmu. Rayakan hidupmu. Tunjukkan pada dunia betapa besar arti dirimu bagi kehidupan #arulight.

  • Ketika aku merasa tidak bisa

    Ketika aku merasa tidak bisa, aku akan diam sejenak dan memeriksa: ya, aku memang tidak bisa. Lalu aku akan menarik nafas dan merenungkan. Lalu aku sadar, jika aku memang TIDAK BISA, mengapa tidak kugunting saja Tidak-nya sehingga yang tersisa hanyalah AKU BISA?
    Semua orang yang tidak bisa sebenarnya bisa Anda mereka cukup punya keinginan dan kesungguhan untuk membuang tidaknya #arulight.

  • Berpikir positif dan positif

    Kapanpun kau merasa letih dan muak pada dirimu, atau pada sekelilingmu, jangan terkecoh! Jika kau bisa berpikir negatif, kau juga bisa berpikir positif.
    Berpikir negatif hanya akan membuatmu letih dan tidak bergerak kemana-mana, berpikir positif membuatmu keuat dan sanggup mengambil langkah untuk membuat perubahan. Benua baru tidak akan pernah ditemukan jika para pelaut tidak berani meninggalkan pelabuhan menuju lautan #arulight.

Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Sunday, June 28, 2015



hai, hai ... berjumpa lagi di kelas menulis bersama saya, saudaranya Brad Pitt. Kali ini segmen teori menulis cerpen adalah tentang latar cerita atau setting. selamat belajar


“Lukisan latar itu harus natural, jangan dipaksakan.”
#Edi Akhiles, penulis dan pendiri #KampusFiksi



Pelataran cerita atau setting dapat Anda terangkan sendiri dengan sebebas-bebasnya. Suatu latar yang absurd yang digunakan lewat aliran surealisme pun sah-sah saja digunakan. Begitu pula latar imajiner seperti dalam dongeng-dongeng fantasi, tidak masalah, asalkan tetap alami dan logis.
Film layar lebar berjudul “Di Bawah Lindungan Ka’bah” pernah dikritik pedas dalam majalah Surah edisi ketiga tahun pertama oleh seorang penulis, salah satunya sebab menyangkut cacatnya setting. Di film yang bersetting zaman penjajahan dulu itu menampakkan produk snack dari garuda food—yang tentu saja produksinya belum ada pada zaman itu—demi kepentingan komersial. Di situlah terdapat ketidaklogisan setting. Ketidaklogisan ini disebut juga dengan istilah anakronisme.
Bedanya, anakronisme sah digunakan dalam fiksi asalkan dengan syarat itu merupakan bagian penting pada cerita. Sebagai contoh dari hal ini adalah serial animasi “Inuyasha”. Dalam serial itu terdapat ketidak-logisan waktu, yakni tokoh Kagome dari masa depan masuk dalam dunia feudal zaman dahulu. Ketidak-logisan ini tidak termasuk cacat, justru menjadi bagian pembangun pada cerita itu sendiri.
Setting mencakup tiga hal: tempat, waktu, dan keadaan sosial.
Menurut saya, setting yang baik adalah setting yang berperan dalam tiga hal, yakni: untuk melukiskan potret kehidupan, menghidupkan suasana, dan memberikan informasi terkait suatu tempat yang digunakan.

Setting Sebagai Potret Kehidupan Sosial
Setting yang baik adalah pelukisan latar yang berjalan secara beriringan antara tempat dan waktu. Maksud saya, latar tersebut tidak hanya memiliki detail fisik tempat saja, namun sekaligus menampakkan kehidupan sosial masyarakatnya. Tetralogy Buruh karya Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu contohnya. Novel tersebut bersetting pada zaman kolonial Belanda, yang tidak hanya bertumpuh pada lukisan tempat-tempat di Indonesia waktu dulu, melainkan melukiskan pula sosiohistoris pribumi serta fakta sejarah yang berkaitan dengan pemerintahan Belanda. Y.B. Mangunwijaya pun tidak kalah hebat dalam melukiskan potret sosial suatu lingkungan, sebagai contoh, silakan Anda simak kutipan novel berikut ini:

             Aku keluar rumah. Kulihat perempuan-perempuan mencuci dan berak di kali manggis dengan air seperti jenang soklat. Bahkan sungai di sisi timur kota Magelang yang sekotor itu ironis sekali diberi nama kali Bening. Di negeri ini, air yang begitu kotor penuh berak dan basil itu toh sudah berhak disebut bening. Tetapi dalam kanal seperti itu juga aku dulu sebagai anak kolong mandi dengan nyaman segar. Dengan norma apa bening dan kotor itu harus kita ukur?masih ada juga yang mencuci beras di selokan itu. Dan dengan enaknya tanpa tahu malu perempuan-perempuan itu turun, membalik, mengangkat kain hingga pantat mereka menongol serba pekik kemerdekaan. Tanpa tergesa-gesa bola merka itu dicelup di dalam air; sambil omong-omong denga rekannya. Biasanya pantat-pantat itu putih dan mulus halus. Yang putih dan halus rupa-rupanya di sini bisa bersahabat dengan yang kotor dan busuk. Apa artinya mandi bagi mereka? sering kadang keluar juga sepasang susu besar yang sama coklatnya dan diseka seolah mau melototnya. Bersih sudah. Sering tanpa sabun. Bangsa begini mau merdeka. Bah!
(“Burung-burung Manyar”, Y.B. Mangunwijaya)   

Pada contoh di atas jelas sekali setting tersebut dimanfaatkan penulis untuk menunjukkan sosio-cultural suatu masyarakat yang sering terjadi saat itu di tempat tersebut.
Memang relatif susah jika membuat setting seperti di atas, penulis harus mengenal baik lingkungan yang dipilihnya sebagai setting, sebab ini menunjukkan potret sosial kehidupan masyarakatnya pula. Penulis harus mendapatkan data-data secara akurat, bahkan mungkin sebuah riset perlu dilakukan untuk mendapatkan suatu informasi. Namun hasilnya hebat.

Setting Sebagai Penghidup Suasana
Keberhasilan lain penulis dalam menciptakan setting adalah sebab tempat atau waktu yang dilukiskan dapat menghidupkan imaji suasana, bukan hanya visual saja. Misalnya:

Jadi begitulah, Eriza, sebagaimana sering kau dengar dari mulut orang-orang, ketika bulan perlahan-lahan terbenam gumpalan awan hitam dan langit menjadi gulita, angin pun seketika mengendap, senyap merayap, dan nun entah dari arah mana, gema suara burung hantu yang sendu bagai menidurkan rerumputan dan perdu, sementara sisa cahaya purnama yang melekat di dedaunan perlahan sesap terhisap gelap. Lalu sunyi menambah resah ke hamparan sawah, dan suara-suara serangga berhenti seketika. Sampai kemudian tak ada lagi angin berdesir, dan segala suara diam tersihir bayangan pohon-pohon perlahan raib. Lesap. Malam menjelma kuburan tua yang menganga.
(“Kupu-kupu Kuning Kemilau”, Agus Noor)

Pada kutipan cerpen di atas, penulis mampu menghidupkan suasana sunyi yang mencekam dengan memanfaatkan waktu kejadian, yakni ketika bulan perlahan-lahan terbenam, suasana tempat tersebut mendadak mengalami perubahan pada tempat-tempat di sekitarnya hingga menjadi sunyi dan mencekam.

Setting Sebagai Penyampaian Informasi
                Setting di sini hanya berfungsi untuk menyuguhkan informasi kepada pembaca tentang suatu tempat beserta sesuatu yang berkaitan dengannya. Informasi yang disampaikan memiliki tujuan untuk membuat latar cerita seolah menjadi nyata dan alami. Sebagai contoh, mari kita simak paragraf di bawah ini:

Cafe des Amateurs tak ubahnya seperti kubangan kakus di salah satu bagian rue Mouffetard, yakni jalan pasar yang sempit dan sesak yang mengarah ke Place Contrescarpe. Di jalan itu ada sejumlah rumah apartemen kuno, yakni bangunan bertingkat dengan tangga samping dari semen yang di bangun miring seperti sepatu sehingga penghuninya tidak terpeleset. Kakus-kakus jongkok dari rumah-rumah apartemen itu dikuras pada malam hari dengan cara memompakannya ke tangki sebuah kereta besar yang diseret kuda. Jika musim panas, saat semua jendela rumah dibuka, orang bisa mendengar jelas suara pompa penguras kakus itu. Baunya, sungguh, sangat kuat menusuk hidung. Sementara itu, tangki-tangki yang berisi kotoran manusia itu dicat warna coklat dan safron. Saat sedang bekerja di rue Cardinal Lemoine, tangki-tangki silinder di atas kereta yang ditarik kuda ini tampak seperti lukisan braque.
(“A Moveable Feast”, Ernest Hemingway)

                Untuk menyuguhkan informasi pada setting cerita, Anda harus mendapatkan data-data yang berhubungan dengan tempat tersebut terlebih dulu. Browsing di internet adalah cara praktis dan murah untuk dilakukan.
                Jadi demikianlah, sebuah latar memang seolah terasa sepeleh, sebab yang paling penting adalah isi cerita. Namun jika diperhitungkan seperti apa yang saya sampaikan di atas, pelataran tersebut dapat memberikan daya tarik pada cerita yang akan Anda tulis. []
1:43 AM   Posted by Unknown in , , with 3 comments
Read More

Monday, March 16, 2015




Sebagai orang tua yang baik, setiap penulis sudah semestinya
memahami setiap karakter dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya.
Anda tentu tidak akan memperlakukan “anak” Anda sebagai boneka.
Mereka mempunyai siklus kehidupan sebagaimana Anda.”
# A.S. Laksana, cerpenis ternama



Perjalanan Hidup Karakter dalam Cerita Anda



                Semua karakter dalam cerita adalah ibarat seseorang yang benar-benar menjalani kehidupan di dalamnya. Mereka tumbuh dinamis, memiliki harapan, kemauan, perasaan, pikiran, dan tujuan. Mereka bisa tertawa. Mereka bisa terluka. Mereka bisa jatuh cinta. Mereka pun bisa sengsara.Tetapi, meskipun Anda adalah yang memberi kehidupan pada karakter fiksi Anda, Anda tidak bisa seenaknya saja menentukan perannya seperti boneka.
                Anda berhak menentukan watak mereka. Terserah jika Anda mau membuat mereka menjadi orang alim, jujur, baik hati, suka menolong, dermawan dan tidak sombong. Atau bila ingin karakter itu menjadi orang yang cerewet, suka bicara kotor, jarang mandi dan suka buang kentut sembarangan juga boleh-boleh saja. Akan tetapi, Anda tidak bisa memaksa pikiran mereka untuk sejalan dengan kemauan Anda. Anda boleh saja menentukan garis nasib mereka. Tapi Anda tidak boleh menentukan hasrat mereka. Ingat, mereka itu hidup. Di dalam cerita mereka sama seperti Anda di dunia nyata.
                Sebab Anda telah menciptakan karakter Anda sedemikian rupa, maka Andalah yang bertanggungjawab untuk bisa memahami jalan pikiran dan perasaannya masing-masing. Salah jika mereka yang harus menuruti jalan pikiran Anda. Bagaimana bentuk fisiknya, bagaimana pola pikirnya, bagaimana perasaannya, bagaimana keinginannya, bagaimana kesulitannya dan lain sebagainya, harus Anda pahami.
                Jika Anda sudah menetapkan jatuhnya takdir—yang pahit, misalnya—untuk karakter Anda, maka Anda harus bisa melukiskan bagaimana karakter fiksi Anda itu menderita, entah itu secara lahir atau batinnya. Tidak hanya itu saja, Anda pun harus bisa memahami kira-kira bagaimana si karakter itu berpikir untuk mengatasi masalahnya. Misalnya, Anda menciptakan tokoh seorang pemabuk, suka main perempuan, penjudi, dan beringasan, sedangkan di cerita Anda menjatuhkan takdir untuknya supaya insyaf, maka jangan secara tiba-tiba karena suatu peristiwa dia langsung bisa sadar dan tobat, pembaca akan sangat kecewa telah membuang waktunya untuk membaca naskah Anda. Sebaliknya Anda harus mampu merasakan, bagaimana batin si tokoh itu mengalami guncangan jiwa sedikit demi sedikit dengan peristiwa yang membuatnya menyesal. Disamping itu bagaimana si tokoh tersebut melakukan pergulatan antara batinnya dengan godaan setan, semuanya harus Anda rasakan. Dengan perasaan itulah Anda menceritakan perjalanan hidup karakter Anda.
                A.S Laksana pernah menjelaskan bahwa karakter itu memiliki siklus kehidupan, yakni sama seperti manusia pada umumnya yang mengalami masa-masa seperti: lahir, masa remaja, dewasa, dan mati.
                Pada masa kelahiran, sebuah karakter memiliki latar belakang masing-masing, kemudian mengalami pengalaman yang berbeda-beda. Mereka punya keinginan dan tujuan dalam hidup mereka kelak. Beranjak ke masa remaja, si karakter akan mulai melakukan petualangan, mencoba banyak hal, belajar dan merespon lingkungan, hingga mulai terlibat masalah dan mencari-cari solusinya. Lalu karakter tersebut akan memasuki masa dewasa, masa yang membuatnya mengenal kerasnya dunia, bertanggungjawab, hati-hati, lebih bijak, dan menunjukkan watak asli yang sebenarnya melalui tindakan atau keputusan yang dia ambil. Yang paling menunjukkan bagaimana watak asli seseorang itu terlihat adalah masalah yang sedang dihadapinya, begitupun seharusnya dengan karakter Anda. Setelah itu semua masa itu, akhirnya karakter Anda akan mati saat cerita berkhir. Segala apa yang terjadi dan dilakukan si karakter akan menjadi pelajaran bagi pembaca. Maka masa kematian tersebut seharusnya membuat karakter Anda terkenang di benak pembaca. Entah dia mati seperti Pangeran Diponegoro, atau mati seperti Fir’aun, yang penting harus berkesan, sebab—seperti kata Masashi kishimoto—kehidupan seseorang itu dilihat dari kematiannya, begitu pula kehidupan di dalam cerita Anda akan terkenang lewat endingnya. []

2:31 AM   Posted by Unknown in , , , , with No comments
Read More


Reading Society:
Sebuah Cara Membangun Kebudayaan Intelektualitas



Gerakan intelektualitas adalah awal suatu kebangkitan bangsa. Sejarah telah mencatatnya. Itu membuktikan bahwa kebudayaan berpengaruh dalam hal tersebut. Akan sangat membantu jika dalam suatu masyarakat terdapat kelompok yang mengamalkan gerakan tersebut. Jadi, kemajuan demi kemajuan dalam berbudaya dapat berkesinambungan dari masa ke masa. Otomatis secara lambat laun akan terbentuk masyarakat yang cerdas gemilang.
Terlepas dari argumen di atas, lalu beralih pandangan pada kebudayaan yang tumbuh di Indonesia; bagaimana taraf pendidikan di suatu daerah, sejauh apa kecerdasan mereka, tentu perlu diperhatikan.
Faktor yang paling berperan dalam perkembangan intelektualitas individu adalah keluarga dan lingkungan. Faktor itu pula yang sekaligus menjadi kemerosotan suatu nilai intelektual, bahkan dapat menyebabkan kebudayaan yang menyimpang. Jadi, keadaan lingkungan sangatlah berpengaruh.
Sebagai orang tua atau lingkungan terdekat individu diharuskan untuk mendidik individu dengan baik, serta mampu memberi contoh langsung dalam tindakan-tindakan setiap saat. Sedangkan untuk lingkungan luar, sekolah tentu menjadi tempat yang sangat membantu untuk menyerap pengetahuan dan pemahaman, sekaligus aktivitas bersosialisasi secara intelektual antar individu lainnya. Pertanyaannya adalah, sudah cukup baguskah standar pendidikan di lingkungan sekolah ini untuk mencetak calon cendekiawan? Semuanya kembali pada meteri ajar dan intensitas pemahaman siswa dan penerapannya di masyarakat.
Secara umum, hasil dari dua ligkungan di atas, yakni keluarga dan sekolah, dapat dijadikan sebagai bayangan yang muncul dari cermin kebudayaan masyarakat.
Namun masih terlalu picik jika dikatakan sekolah, orang tua, maupun masyarakat setempat sudah cukup untuk membuat kebudayaan intelektual di tempat tersebut hanya dari pandangan mereka akan pengalaman hidup dan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya, perkembangan akan menuntut pengetahuan-pengetahuan tentang segala macam aspek kehidupan. Untuk itu, tentu pengetahuan tentang dunia harus sering didapatkan. Dan membaca adalah alternatif bijak, sebab buku adalah sarana untuk berinteraksi antara individu dengan dunia. Maka, masyarakat aktif membaca atau reading society perlulah untuk dibentuk.
Sebagai salah satu perbandingan yang mencolok antara kemajuan negara satu dengan yang lainnya bisa dilihat dari aktifitas keseharian masyarakatnya, yakni membaca. Bahkan, ada suatu negara dengan masyarakatnya yang begitu bangun tidur, saat sarapan, atau berangkat kerja, sudah terbiasa dengan membaca. Membaca buku apa saja, terutama sekali novel. Mereka terbiasa dengan kegiatan membaca di mana pun mereka berada, bahkan di kereta api, bus, pesa­wat, taman-taman, dan semua tempat yang bisa diduduki dengan nyaman. Bandingkan dengan masyarakat kita saat ini!
 Untuk menciptakan reading society, melibatkan dua komponen utama, yakni orang tua dan peran pendidikan formal.
Orang tua, sebagai lingkungan terdekat individu harus memberi contoh sebagai orang yang aktif membaca. Orang tua atau dewasa harus memantau dan mengarahkan individu pada tujuan atau maksud dari buku yang dipelajarinya. Bagaimana seorang individu tiba-tiba bisa suka membaca jika sejak dini orang tua tidak menerapkan disiplin ini? Tentu jarang terjadi.
Di pendidikan formal, membaca perlu dijadikan sebagai mata pelajaran yang tetap, seharusnya. Suatu topik bacaan harus bisa dipahami dan diceritakan oleh siswa secara kesluruhan. Tujuannya adalah agar siswa menjadi terbiasa dengan membaca. Otomatis dengan kebiasaan ini, aktifitas untuk belajar pada mata pelajaran lainnya pun bisa mudah dilakukan sebab terbiasa membaca.
Di negara-negara maju, membaca sudah dari dulu memnjadi mata pelajaran pokok. Biasanya berbasis sastra. Di Inggris, misalnya, puisi-puisi Shakespeare menjadi bacaan wajib sejak SD. Tujuannya untuk menanamkan tradisi etik dan kebudayaan masyarakatnya. Di Swedia, beragam spanduk dibentangkan di hari raya. Isinya kutipan dari karya-karya kesusastraan. Di Malaysia dan Jepang, warga usia sekolah diwajibkan membaca sedikitnya dua puluh lima karya sastra. Di indonesia sendiri, sejak jaman kolonial belanda, saat memasuki awal tingkat menengah atas, siswa diharuskan menamatkan membaca lima belas karya sastra yang semuanya dalam bahasa Inggris, Belanda dan Melayu. Di tingkatan kedua malah sampai tiga puluh karya sastra. Hanya saja setelah Indonesia merdeka, kebijakan itu dihapus dan difokuskan pada ilmu pengetahuan umum saja, dengan alasan agar dapat menciptakan pelajar yang terampil dalam suatu bidang untuk pembangunan Indonesia.
            Sedangkan, dari hasil yang didapat dari reading society adalah setelah terciptanya individu yang cerdas, akan timbul komunitas yang aktif membicarakan suatu permasalahan dalam bidang-bidang tertentu, progresifnya teraplikasikan kedalam tatanan kehidupan. Semakin luas jaringan itu terbentuk, kebodohan akan dengan mudah hilang dari masyarakat. Nah!

#Rumah_Lamongan, 16/04/2014

Sumber rujukan:
Nur, Arafat. 2012. Sastra dan Minat Baca yang Suram. Dalam Majalah Frasa edisi keempat, September 2012

T.H, Agung Yuli. 2013. Sastra: Sebuah Alternatif Untuk Pendidikan Karakter. Dalam Majalah Bong-Ang edisi kedua, Desember 2013

Widarmanto, Tjahjono. 2013. Masa Depan Sastra. Sidoarjo: Satukata Book@art Publisher
2:08 AM   Posted by Unknown in , , , with No comments
Read More

Friday, March 13, 2015





“Terus terang, saya sendiri selalu menulis buruk untuk   
                    menghasilkan draf pertama tulisan saya... Namun, menurut saya, sesuatu yang kalau pun buruk tetap lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali.”
# A.S. Laksana, cerpenis ternama Indonesia


Ciptakan Tulisan yang Buruk


                Seorang supir bus menggunakan tangannya untuk mengontrol arah kendaraannya. Seorang tentara menggunakan tangannya untuk menggunakan senjatanya. Seorang ibu rumah tangga menggunakan tangannya untuk memasak. Dan banyak profesi lainnya yang bertumpuh pada tangan untuk merealisasikan apa yang harus dicapainya, termasuk penulis. Dan karena profesinya, mereka dituntut untuk tetap menjalankan tangannya dalam berbagai situasi psikologis. Entah mereka sedang jatuh cinta, bingung, marah, bahagia, dilema, termasuk ketika sedang tidak punya ide.
                Jika mengalami saat-saat di mana ide itu tidak berdiam diri dalam kepala dan karena itu seseorang tidak dapat menggerakkan tangannya, maka seorang supir bus akan membawa petaka bagi para penumpangnya, seorang tentara akan mati konyol dalam medan tempur, seorang ibu rumah tangga akan membuat kelaparan seisi rumah, dan seorang penulis akan ditertawan oleh status profesinya.
                Ide selalu dikambing-hitamkan sebagai penyebab tidak terciptanya sebuah karya. Padahal sebenarnya ide pun bukanlah jaminan rampungnya karya. Tidak adanya kemauan barulah pantas diterima sebagai alasan mengapa karya itu belum tercipta.
                Memang sepertinya mudah jika cuma bicara. Tetapi jika Anda benar-benar ingin terjun ke dalam dunia penulisan, pertama yang harus Anda miliki sebagai modal adalah “ketebalan kulit”. Kreatifitas hanyalah nomor dua. Istiqomah atau kekonsistenan untuk menulis harus menjadi napas bagi para penulis.
                Mengenai ide, jika memang ia sedang tidak bersahabat dengan Anda maka hentikan untuk mencarinya. Tetapi ciptakanlah dia. Dengan apa? Tentu saja dengan menulis. Bagaimana bisa?
                Memang bukan pekerjaan mudah jika ingin menciptakan tulisan yang bagus. Maka, saran yang tepat untuk Anda agar tetap bisa menulis dalam situasi apapun adalah: menulislah yang buruk!
                Dengan buruk? Yang benar saja!
                Dengan menulis buruk pekerjaan menulis akan menjadi ringan. Anda tidak perlu menjadi secerdas Andrea Hirata, Pramoedya, Sartre, Morrison, Bradbury, atau lainnya untuk melakukan hal ini. Penulis paling payah sedunia pun dapat melakukannya.
Tulislah apa saja yang anda inginkan, selama itu tidak berdosa. Mulailah dari apa saja yang menurut Anda perlu ditulis. Kesampingkan dulu penilaian baik atau buruknya. Sebuah sampah pun bisa menjadi pupuk jika dimanfaatkan, bukan berarti tulisan buruk Anda tidak dapat didaur ulang. Semua hanya masalah kreatifitas yang Anda pekerjakan untuk mengolahnya. Jadi biasakanlah menulis meskipun itu menjadi tulisan yang seburuk-buruknya tulisan. []
Latihan!              
1.       Ambil kertas dan pena
2.       Pikirkan sesuatu (sekali pun itu hal remeh-temeh) dalam 10-20 detik.
3.       Tuliskan isi pikiran Anda tanpa berhenti dalam 5-7 menit.
4.       Pikirkan sesuatu lagi untuk menyambung pikiran Anda sebelumnya dalam 10-20 detik.
5.       Tuliskan lagi dalam waktu 5-7 menit tanpa berhenti.
6.       Pikirkan lagi sesuatu dalam interval waktu yang sama dan tulis kembali dalam waktu yang sama.
7.       Baca ulang tulisan Anda. Apakah ada tokoh? Konflik? Setting? Atau lainnya? Sebutkan!
Catatan:
                Jika Anda telah melakukannya, saya ucapkan: Selamat! Anda berhasil menciptakan tulisan kurang-lebih satu halaman kertas A4 dengan cepat, sekaligus dengan hasil yang buruk.
                Kesampingan dulu penilaian buruk yang ada, yang jelas Anda bisa memperbaiki atau mengembangkannya sebagai cerpen yang utuh.
                Latihan di atas saya maksud untuk melatih kebiasaan menulis dan menghilangkan kebuntuhan ide. Secara berlanjut, latihan tersebut tentu dapat mengasah keterampilan menulis seseorang.
                Semoga bermanfaat! []
3:25 AM   Posted by Unknown in , , with No comments
Read More

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search