• Setiap Hari Adalah Kesempatan

    Setahun berisi 365 hari, setiap hari yang datang adalah hari baru, maka dalam setahun hiduopmu disuguhkan 365 kesempatan oleh Tuhan. Jangan menyerah, jangan berputus asa. Kegagalan hari ini adalah milik hari ini, esok hari adalah kesempatan bagimu untuk membuat perubahan. Lihatlah matahari, sekali waktu ia terbit tertutup awan, namun matahari tak pernah menyerah untuk te3rus terbit esok hari.
    Manfaatkan waktumu. gunakan kemampuanmu. Rayakan hidupmu. Tunjukkan pada dunia betapa besar arti dirimu bagi kehidupan #arulight.

  • Ketika aku merasa tidak bisa

    Ketika aku merasa tidak bisa, aku akan diam sejenak dan memeriksa: ya, aku memang tidak bisa. Lalu aku akan menarik nafas dan merenungkan. Lalu aku sadar, jika aku memang TIDAK BISA, mengapa tidak kugunting saja Tidak-nya sehingga yang tersisa hanyalah AKU BISA?
    Semua orang yang tidak bisa sebenarnya bisa Anda mereka cukup punya keinginan dan kesungguhan untuk membuang tidaknya #arulight.

  • Berpikir positif dan positif

    Kapanpun kau merasa letih dan muak pada dirimu, atau pada sekelilingmu, jangan terkecoh! Jika kau bisa berpikir negatif, kau juga bisa berpikir positif.
    Berpikir negatif hanya akan membuatmu letih dan tidak bergerak kemana-mana, berpikir positif membuatmu keuat dan sanggup mengambil langkah untuk membuat perubahan. Benua baru tidak akan pernah ditemukan jika para pelaut tidak berani meninggalkan pelabuhan menuju lautan #arulight.

Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Monday, March 16, 2015




Sebagai orang tua yang baik, setiap penulis sudah semestinya
memahami setiap karakter dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya.
Anda tentu tidak akan memperlakukan “anak” Anda sebagai boneka.
Mereka mempunyai siklus kehidupan sebagaimana Anda.”
# A.S. Laksana, cerpenis ternama



Perjalanan Hidup Karakter dalam Cerita Anda



                Semua karakter dalam cerita adalah ibarat seseorang yang benar-benar menjalani kehidupan di dalamnya. Mereka tumbuh dinamis, memiliki harapan, kemauan, perasaan, pikiran, dan tujuan. Mereka bisa tertawa. Mereka bisa terluka. Mereka bisa jatuh cinta. Mereka pun bisa sengsara.Tetapi, meskipun Anda adalah yang memberi kehidupan pada karakter fiksi Anda, Anda tidak bisa seenaknya saja menentukan perannya seperti boneka.
                Anda berhak menentukan watak mereka. Terserah jika Anda mau membuat mereka menjadi orang alim, jujur, baik hati, suka menolong, dermawan dan tidak sombong. Atau bila ingin karakter itu menjadi orang yang cerewet, suka bicara kotor, jarang mandi dan suka buang kentut sembarangan juga boleh-boleh saja. Akan tetapi, Anda tidak bisa memaksa pikiran mereka untuk sejalan dengan kemauan Anda. Anda boleh saja menentukan garis nasib mereka. Tapi Anda tidak boleh menentukan hasrat mereka. Ingat, mereka itu hidup. Di dalam cerita mereka sama seperti Anda di dunia nyata.
                Sebab Anda telah menciptakan karakter Anda sedemikian rupa, maka Andalah yang bertanggungjawab untuk bisa memahami jalan pikiran dan perasaannya masing-masing. Salah jika mereka yang harus menuruti jalan pikiran Anda. Bagaimana bentuk fisiknya, bagaimana pola pikirnya, bagaimana perasaannya, bagaimana keinginannya, bagaimana kesulitannya dan lain sebagainya, harus Anda pahami.
                Jika Anda sudah menetapkan jatuhnya takdir—yang pahit, misalnya—untuk karakter Anda, maka Anda harus bisa melukiskan bagaimana karakter fiksi Anda itu menderita, entah itu secara lahir atau batinnya. Tidak hanya itu saja, Anda pun harus bisa memahami kira-kira bagaimana si karakter itu berpikir untuk mengatasi masalahnya. Misalnya, Anda menciptakan tokoh seorang pemabuk, suka main perempuan, penjudi, dan beringasan, sedangkan di cerita Anda menjatuhkan takdir untuknya supaya insyaf, maka jangan secara tiba-tiba karena suatu peristiwa dia langsung bisa sadar dan tobat, pembaca akan sangat kecewa telah membuang waktunya untuk membaca naskah Anda. Sebaliknya Anda harus mampu merasakan, bagaimana batin si tokoh itu mengalami guncangan jiwa sedikit demi sedikit dengan peristiwa yang membuatnya menyesal. Disamping itu bagaimana si tokoh tersebut melakukan pergulatan antara batinnya dengan godaan setan, semuanya harus Anda rasakan. Dengan perasaan itulah Anda menceritakan perjalanan hidup karakter Anda.
                A.S Laksana pernah menjelaskan bahwa karakter itu memiliki siklus kehidupan, yakni sama seperti manusia pada umumnya yang mengalami masa-masa seperti: lahir, masa remaja, dewasa, dan mati.
                Pada masa kelahiran, sebuah karakter memiliki latar belakang masing-masing, kemudian mengalami pengalaman yang berbeda-beda. Mereka punya keinginan dan tujuan dalam hidup mereka kelak. Beranjak ke masa remaja, si karakter akan mulai melakukan petualangan, mencoba banyak hal, belajar dan merespon lingkungan, hingga mulai terlibat masalah dan mencari-cari solusinya. Lalu karakter tersebut akan memasuki masa dewasa, masa yang membuatnya mengenal kerasnya dunia, bertanggungjawab, hati-hati, lebih bijak, dan menunjukkan watak asli yang sebenarnya melalui tindakan atau keputusan yang dia ambil. Yang paling menunjukkan bagaimana watak asli seseorang itu terlihat adalah masalah yang sedang dihadapinya, begitupun seharusnya dengan karakter Anda. Setelah itu semua masa itu, akhirnya karakter Anda akan mati saat cerita berkhir. Segala apa yang terjadi dan dilakukan si karakter akan menjadi pelajaran bagi pembaca. Maka masa kematian tersebut seharusnya membuat karakter Anda terkenang di benak pembaca. Entah dia mati seperti Pangeran Diponegoro, atau mati seperti Fir’aun, yang penting harus berkesan, sebab—seperti kata Masashi kishimoto—kehidupan seseorang itu dilihat dari kematiannya, begitu pula kehidupan di dalam cerita Anda akan terkenang lewat endingnya. []

2:31 AM   Posted by Unknown in , , , , with No comments
Read More

Friday, March 13, 2015





“Terus terang, saya sendiri selalu menulis buruk untuk   
                    menghasilkan draf pertama tulisan saya... Namun, menurut saya, sesuatu yang kalau pun buruk tetap lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali.”
# A.S. Laksana, cerpenis ternama Indonesia


Ciptakan Tulisan yang Buruk


                Seorang supir bus menggunakan tangannya untuk mengontrol arah kendaraannya. Seorang tentara menggunakan tangannya untuk menggunakan senjatanya. Seorang ibu rumah tangga menggunakan tangannya untuk memasak. Dan banyak profesi lainnya yang bertumpuh pada tangan untuk merealisasikan apa yang harus dicapainya, termasuk penulis. Dan karena profesinya, mereka dituntut untuk tetap menjalankan tangannya dalam berbagai situasi psikologis. Entah mereka sedang jatuh cinta, bingung, marah, bahagia, dilema, termasuk ketika sedang tidak punya ide.
                Jika mengalami saat-saat di mana ide itu tidak berdiam diri dalam kepala dan karena itu seseorang tidak dapat menggerakkan tangannya, maka seorang supir bus akan membawa petaka bagi para penumpangnya, seorang tentara akan mati konyol dalam medan tempur, seorang ibu rumah tangga akan membuat kelaparan seisi rumah, dan seorang penulis akan ditertawan oleh status profesinya.
                Ide selalu dikambing-hitamkan sebagai penyebab tidak terciptanya sebuah karya. Padahal sebenarnya ide pun bukanlah jaminan rampungnya karya. Tidak adanya kemauan barulah pantas diterima sebagai alasan mengapa karya itu belum tercipta.
                Memang sepertinya mudah jika cuma bicara. Tetapi jika Anda benar-benar ingin terjun ke dalam dunia penulisan, pertama yang harus Anda miliki sebagai modal adalah “ketebalan kulit”. Kreatifitas hanyalah nomor dua. Istiqomah atau kekonsistenan untuk menulis harus menjadi napas bagi para penulis.
                Mengenai ide, jika memang ia sedang tidak bersahabat dengan Anda maka hentikan untuk mencarinya. Tetapi ciptakanlah dia. Dengan apa? Tentu saja dengan menulis. Bagaimana bisa?
                Memang bukan pekerjaan mudah jika ingin menciptakan tulisan yang bagus. Maka, saran yang tepat untuk Anda agar tetap bisa menulis dalam situasi apapun adalah: menulislah yang buruk!
                Dengan buruk? Yang benar saja!
                Dengan menulis buruk pekerjaan menulis akan menjadi ringan. Anda tidak perlu menjadi secerdas Andrea Hirata, Pramoedya, Sartre, Morrison, Bradbury, atau lainnya untuk melakukan hal ini. Penulis paling payah sedunia pun dapat melakukannya.
Tulislah apa saja yang anda inginkan, selama itu tidak berdosa. Mulailah dari apa saja yang menurut Anda perlu ditulis. Kesampingkan dulu penilaian baik atau buruknya. Sebuah sampah pun bisa menjadi pupuk jika dimanfaatkan, bukan berarti tulisan buruk Anda tidak dapat didaur ulang. Semua hanya masalah kreatifitas yang Anda pekerjakan untuk mengolahnya. Jadi biasakanlah menulis meskipun itu menjadi tulisan yang seburuk-buruknya tulisan. []
Latihan!              
1.       Ambil kertas dan pena
2.       Pikirkan sesuatu (sekali pun itu hal remeh-temeh) dalam 10-20 detik.
3.       Tuliskan isi pikiran Anda tanpa berhenti dalam 5-7 menit.
4.       Pikirkan sesuatu lagi untuk menyambung pikiran Anda sebelumnya dalam 10-20 detik.
5.       Tuliskan lagi dalam waktu 5-7 menit tanpa berhenti.
6.       Pikirkan lagi sesuatu dalam interval waktu yang sama dan tulis kembali dalam waktu yang sama.
7.       Baca ulang tulisan Anda. Apakah ada tokoh? Konflik? Setting? Atau lainnya? Sebutkan!
Catatan:
                Jika Anda telah melakukannya, saya ucapkan: Selamat! Anda berhasil menciptakan tulisan kurang-lebih satu halaman kertas A4 dengan cepat, sekaligus dengan hasil yang buruk.
                Kesampingan dulu penilaian buruk yang ada, yang jelas Anda bisa memperbaiki atau mengembangkannya sebagai cerpen yang utuh.
                Latihan di atas saya maksud untuk melatih kebiasaan menulis dan menghilangkan kebuntuhan ide. Secara berlanjut, latihan tersebut tentu dapat mengasah keterampilan menulis seseorang.
                Semoga bermanfaat! []
3:25 AM   Posted by Unknown in , , with No comments
Read More

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search