• Setiap Hari Adalah Kesempatan

    Setahun berisi 365 hari, setiap hari yang datang adalah hari baru, maka dalam setahun hiduopmu disuguhkan 365 kesempatan oleh Tuhan. Jangan menyerah, jangan berputus asa. Kegagalan hari ini adalah milik hari ini, esok hari adalah kesempatan bagimu untuk membuat perubahan. Lihatlah matahari, sekali waktu ia terbit tertutup awan, namun matahari tak pernah menyerah untuk te3rus terbit esok hari.
    Manfaatkan waktumu. gunakan kemampuanmu. Rayakan hidupmu. Tunjukkan pada dunia betapa besar arti dirimu bagi kehidupan #arulight.

  • Ketika aku merasa tidak bisa

    Ketika aku merasa tidak bisa, aku akan diam sejenak dan memeriksa: ya, aku memang tidak bisa. Lalu aku akan menarik nafas dan merenungkan. Lalu aku sadar, jika aku memang TIDAK BISA, mengapa tidak kugunting saja Tidak-nya sehingga yang tersisa hanyalah AKU BISA?
    Semua orang yang tidak bisa sebenarnya bisa Anda mereka cukup punya keinginan dan kesungguhan untuk membuang tidaknya #arulight.

  • Berpikir positif dan positif

    Kapanpun kau merasa letih dan muak pada dirimu, atau pada sekelilingmu, jangan terkecoh! Jika kau bisa berpikir negatif, kau juga bisa berpikir positif.
    Berpikir negatif hanya akan membuatmu letih dan tidak bergerak kemana-mana, berpikir positif membuatmu keuat dan sanggup mengambil langkah untuk membuat perubahan. Benua baru tidak akan pernah ditemukan jika para pelaut tidak berani meninggalkan pelabuhan menuju lautan #arulight.

Showing posts with label wanita. Show all posts
Showing posts with label wanita. Show all posts

Sunday, June 28, 2015

ini dia cerpen beraliran ekspresionisme pertama saya, hasil uji coba yang menyenangkan. hasilnya, selain surealisme dan impresionisme, aliran ini pun masuk kategori dalam aliran menulis yang saya sukai. well, selamat membaca.



Rembulan Merah


“Aku ingin menikah denganmu,” ujar seorang lelaki, malam itu.  
Mendadak kafe terbuka yang mereka tempati menjadi taman bunga dan perempuan itu menari di sana, dihujani guguran kelopak bunga. Tak bisa ia tahan keluarnya rona merah di pipi, sekaligus titik air mata. Maka ia berdiri dari tempat duduknya dan memunggungi lekaki itu, berusaha menyembunyikan perasaan yang tak karuan dalam hatinya.
“Kau begitu cepat menyatakannya,” kata perempuan itu, setelah mendapatkan kembali kontrol dirinya. “Apa yang membuatmu yakin melakukannya?”
Lelaki di hadapannya diam sejenak, melempar pandang, lalu menjawab, “Aku memang ingin melakukannya denganmu.”
Musik jazz terdengar merdu dan suasana kafe begitu tenang malam itu. Adalah hal yang sangat romantis bagi seorang perempuan mendengar tawaran menikah dengan lelaki yang telah memikat hatinya.
Di atas meja, di antara gelas minuman mereka, tangan perempuan itu sedikit dijulurkan ke depan, berharap agar lelaki itu segera menyentuhnya. Namun, tangannya bagaikan sesosok makhluk yang kesepian—tak ada perhatian sedikit pun dari tangan lain dari seberang meja. Ia menatap wajah lelaki itu sedang memandang ke suatu tempat, sangat jauh tampaknya, entah di mana. Mendadak perempuan itu menjadi sedih, mengapa yang dilihat lelaki itu bukan wajahnya yang kini berada dekat dengannya. Dengan suatu cara absurd, ia mengerti, bahwa ada wajah perempuan lain di tempat yang jauh itu. Suatu cara yang ia sebut “naluri”.
Akhirnya tangan yang kesepian itu menarik gelas minuman sebagai tindakan pelarian. Perempuan itu menenggak minuman dengan kesal, di samping berusaha mencairkan tenggorokannya yang beku akibat suasana dingin muncul begitu saja tanpa diharapkan. Lalu ia bicara:
“Kau sudah kenal siapa aku, bukan?”
Kedua alis lelaki itu menjadi bergelombang ketika pertanyaan tersebut terlontar. Secara tak diinginkan, ia menjadi agak gugup dan bingung karena harus menemukan jawaban yang tepat dalam waktu yang cepat.
“Aku menyukai kepopuleran,” sergah perempuan itu, menghentikan kalimat si lelaki di pangkal lehernya sebelum berhasil menjadi suara.
“Lalu siapa dirimu?” sergahnya yang berikutnya, menikam tepat ke jantung lelaki itu.
Tak perlu bingung lagi mencari sebuah jawabanan. Tak perlu pula untuk dijawab. Sudah jelas siapa dirinya: Hanya pekerja biasa di perusahaan ayah si perempuan. Ingin sekali rasanya ia menggebrak meja dan menyiramkan minuman ke muka perempuan itu. Tapi ia sadar bahwa perbuatannya sendirilah yang telah mempermalukan dirinya.
Ah, bagaimana mungkin seorang lelaki bisa menjelma makhluk yang paling tolol sedunia? Meniduri anak bosnya adalah tindakan terbodoh yang pernah ia lakukan seumur hidup. Tetapi mempertanggungjawabkannya merupakan hal yang luar biasa lagi bodohnya. Ia tertawa kecut dalam hati dan memutuskan untuk tidak berkata apa-apa lagi kepada perempuan itu, sambil berusaha membujuk dirinya sendiri untuk menerima kenyataan bahwa sekarang ia menjadi pecundang yang sangat menggelikan.
“Aku mengerti. Maafkan aku,” ujar lelaki itu, lalu bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan kafe tersebut.
Bayangan bulan jatuh di atas permukaan anggur dalam gelas. Warna emasnya seperti cincin yang melingkari warna merah. Secuil wajah perempuan itu tercermin di sana. Ia mendesah. Bagaimana dirinya bisa mengucapkan hal yang paling tidak diinginkan? Betul-betul gila, batinnya. Ingatannya masih begitu hangat pada setiap intonasi bunyi yang keluar dari mulut lelaki ketika melamarnya. Menikah, oh, sungguh benar-benar hal yang sangat membahagiakan, meskipun hanya untuk didengar.
Ia teringat kembali pada kejadian beberapa malam lalu dengan lelaki tersebut. Kekecewaannya masih tersisa akibat tindakan yang tidak hormat dilakukan pada dirinya. Meskipun itu adalah kekhilafan dan dilakukan oleh seseorang yang dicintainya. Tapi terlalu munafik baginya apabila menolak perlakuan itu, hingga akhirnya ia memberikan seluruh tubuhnya untuk dinikmati.
“Pelayan, tolong berikan aku anggur lagi.”
Ia menuangkan anggur itu ke dalam gelas dan menghabiskannya dalam sekali tegukan. Lalu  memandang sendu garis horison antara laut dan langit. Tak akan ada penyesalan, tak akan pernah—gumamnya dalam hati. Namun tetap saja ia menangis,  sepanjang malam.[]

# Rumah_Lamongan, 25 Juli 2013

Sumber: Tabloid Ruang Rekontruksi, edisi Februari 2013 
gambar: google

1:20 AM   Posted by Unknown in , , , , with No comments
Read More

Monday, March 2, 2015




                Setiap pagi dan sore wanita itu sering duduk di bangku halaman, dekat pohon imboh samping rumahku. Sering kutemukan ia membawa secarik kertas dan menulis sesuatu di sana. Katanya yang ditulis adalah surat untuk suaminya tercinta, seorang pelaut yang sudah sangat lama tidak pernah terlihat lagi.
                Aku bertanya padanya, bagaimana ia dapat mengirimkan surat itu pada suaminya. Sambil menunjuk pada burung-burung gereja yang sering bertengger di pohon imboh, dia berkata bahwa merekalah si makhluk baik hati yang senantiasa mengirimkan suratnya.
                Entah sudah tahun yang ke berapa dia masih tetap menulis surat, hingga pada suatu hari dia terlihat sangat murung di bangku itu. Dengan berusaha menyembunyikan isaknya, ia bilang padaku bahwa ia sudah lelah menunggu surat balasan dari suaminya yang tak kunjung datang. Aku hanya bisa iba dan membimbingnya pulang.
                Dan kemarin, ketika aku sepulang kerja, dia menghampiriku. Wajahnya berseri-seri di bawah langit senja yang hampir meredup.
                 “Aku mendapatkan balasan surat dari suamiku,” katanya sambil menitikkan air mata. “Ia akan datang dan membawaku ke puncak menara Eifel yang tinggiiiiiiiii sekali,” imbuhnya dengan sangat antusias. Aku tersenyum melihat ia sebahagia itu. Tiba-tiba aku terbersit sesuatu:
                “Siapa yang mengantarkan suratnya padamu?” tanyaku.
                “Tentu saja seekor burung yang ia mintai tolong. Itu burungnya,” ia menunjuk ke pohon imboh.
                Aku terperanjat. Itu burung gagak.

                                                                                                  Rumah, Lamongan_14 Januari 2013

Sumber: majalah FRASA edisi 10 tahun 2013


7:32 PM   Posted by Unknown in , , , with No comments
Read More

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search